INET 2026: Target Pendapatan Dobel dari Kabel Bawah Laut
PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET), emiten di sektor telekomunikasi dan infrastruktur digital Indonesia, optimistis mencapai target pendapatan dua kali lipat pada 2026 dibandingkan 2025, terutama berkat proyek kabel bawah laut Jakarta-Singapura yang menjadi pendorong utama.
Proyek ini tidak hanya meningkatkan kapasitas konektivitas internasional, tetapi juga mendukung transformasi INET menjadi pemain kunci dalam ekosistem data center dan layanan cloud di kawasan ASEAN.
Strategi ini selaras dengan tren pertumbuhan data traffic di Indonesia yang diproyeksikan mencapai 20-30% per tahun, didorong oleh adopsi AI, 5G, dan digitalisasi ekonomi.
Detail Proyek Kabel Bawah Laut
Proyek submarine cable Jakarta-Singapura memiliki kapasitas total 20.000 Gbps, dengan alokasi 50% untuk INET yang diproyeksikan menyumbang pendapatan tahunan Rp474 miliar mulai operasional penuh.
Margin gross profit dari segmen ini diperkirakan mencapai 50-65%, jauh lebih tinggi daripada bisnis konvensional INET seperti FTTH dan Wi-Fi, karena rendahnya biaya operasional pasca-konstruksi. Operasional direncanakan mulai Februari-Maret 2026, dengan kontribusi material terlihat di kuartal II, mengingat saat ini (Januari 2026) tahap pemasangan kabel hampir selesai.
Kinerja Finansial 2025 dan Proyeksi 2026
| (Foto Saham INET dari Google Finansial) |
Untuk tahun penuh 2025, manajemen memproyeksikan pendapatan sekitar Rp90-100 miliar sebagai fase transisi, sebelum lonjakan dua kali lipat di 2026 menjadi Rp180-200 miliar. Laba bersih juga diantisipasi tumbuh proporsional, dengan EBITDA margin yang lebih kuat berkat skala ekonomi dari proyek besar.
Rencana Capex dan Pendanaan
INET menganggarkan capex Rp4,2 triliun untuk 2026, difokuskan pada empat pilar: ekspansi submarine cable (40%), FTTH dan fiberisasi (30%), Wi-Fi 7 enterprise (20%), serta data center connectivity (10%). Pendanaan bersumber dari rights issue Rp2,93 triliun yang sedang diproses OJK, obligasi konversi, dan kas internal, memastikan leverage tetap terkendali di bawah 2x. Rights issue ini juga akan memperkuat free float saham di BEI, potensial mendongkrak likuiditas dan valuasi.
Prospek dan Risiko Investasi
Prospek INET cerah dengan multiplikator PER yang kompetitif dibandingkan peer seperti EXCL atau TBIG, didukung narasi "dark fiber" dan interconnectivity ASEAN.
Namun, risiko utama termasuk keterlambatan rights issue, fluktuasi rupiah terhadap capex impor peralatan, serta kompetisi dari SEA-ME-WE 6. Bagi investor ritel di Indonesia seperti Anda yang aktif pantau IHSG, INET layak masuk watchlist untuk entry post-rights issue.

