Jika Rupiah Tembus 17 Ribu: 5 Dampak untuk Keuangan dan Bisnis di Indonesia
Jika Rupiah tembus Rp17.000 per dolar AS, keuangan dan bisnis di Indonesia akan menghadapi tekanan signifikan akibat biaya impor yang melonjak. Dampak ini mencakup kenaikan inflasi, penurunan daya beli masyarakat, dan tantangan operasional bagi perusahaan importir. Berikut lima dampak utama berdasarkan analisis terkini.
Biaya Produksi Melonjak
Perusahaan dan UMKM yang bergantung pada bahan baku impor, seperti industri farmasi dan garmen, akan mengalami kenaikan biaya produksi hingga 70% lebih tinggi. Hal ini memaksa penyesuaian harga jual atau pengurangan margin keuntungan untuk bertahan. Akibatnya, banyak usaha kecil berisiko tutup jika pelemahan berlangsung lama.
Inflasi dan Daya Beli Turun
Harga barang konsumsi pokok, energi, dan impor naik, memicu inflasi yang menekan rumah tangga berpenghasilan rendah-menengah. Daya beli masyarakat menurun karena pendapatan tidak ikut naik, sehingga konsumsi rumah tangga menyusut. Sektor informal seperti pedagang kaki lima juga terdampak melalui kenaikan harga kebutuhan sehari-hari.
Pertumbuhan Ekonomi Terhambat
Target pertumbuhan 5,2% sulit tercapai karena kredit melambat dan suku bunga BI berpotensi naik untuk stabilkan kurs. Manufaktur impor-berat terpuruk, sementara sektor jasa dan informal mengalami pengangguran akibat pemangkasan jam kerja. Meski pasar modal sempat naik, ketidakpastian global memperburuk prospek keseluruhan.
Peluang Ekspor Meningkat
Produk lokal jadi lebih kompetitif di pasar global, menguntungkan UMKM ekspor seperti kerajinan dan makanan khas. Pariwisata juga diuntungkan karena wisatawan asing mendapat nilai tukar menguntungkan. Namun, manfaat ini terbatas pada pelaku usaha yang siap go global.
Tekanan Utang dan Investasi
Utang luar negeri pemerintah dan swasta membengkak dalam rupiah, meningkatkan beban pembayaran. Investor asing ragu masuk, meski arus modal saham sempat positif. Strategi mitigasi seperti intervensi BI dan promosi ekspor diperlukan untuk kurangi risiko krisis.

