Buyback Saham Emiten Mulai Marak: Sinyal Positif Pemulihan Bursa?
Fenomena buyback saham oleh emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) semakin marak sejak akhir 2025 hingga awal 2026, terutama di tengah fluktuasi IHSG. Strategi ini sering dilihat sebagai indikator kepercayaan manajemen terhadap prospek perusahaan, berpotensi mendukung pemulihan pasar saham.
Tren Buyback Terkini
Sejumlah emiten besar meluncurkan program buyback masif pada kuartal I 2026. BBCA mengalokasikan hingga Rp5 triliun sejak Oktober 2025 hingga Januari 2026, sementara BBNI dan BBRI menyiapkan dana miliaran rupiah untuk stabilisasi harga saham.
Emiten konglomerat seperti CUAN milik Prajogo Pangestu menambah kepemilikan, disusul GOTO dengan Rp3,3 triliun hingga Juni 2026 dan AMRT Rp1,5 triliun hingga Maret 2026. Sektor energi seperti BREN serta CUAN sendiri juga aktif, dengan CUAN menyiapkan Rp750 miliar mulai Februari 2026.
Alasan dan Dampak Positif
Buyback mengurangi jumlah saham beredar, sehingga meningkatkan earnings per share (EPS) dan menarik investor baru. Ini juga memberi sinyal fundamental kuat meski harga saham undervalue, seperti dinilai analis Mirae Asset.
Analis menilai tren ini bisa pulihkan likuiditas IHSG yang sempat turun, dengan efek jangka pendek berupa kenaikan harga saham. OJK memfasilitasi buyback tanpa RUPS untuk tingkatkan kepercayaan pasar.
Daftar Emiten Aktif Buyback
|
Emiten |
Sektor |
Dana (Rp Triliun) |
Periode |
|
BBCA |
Perbankan |
5 |
Okt 2025 - Jan 2026 |
|
GOTO |
Teknologi |
3,3 |
Hingga Jun 2026 |
|
AMRT |
Konsumer |
1,5 |
Hingga Mar 2026 |
|
CUAN |
Energi |
0,75 |
Feb - Mei 2026 |
|
BBRI |
Perbankan |
3 |
2025-2026 |

