Ekonomi Indonesia Catat Pertumbuhan 5,11% Sepanjang 2025
Data Triwulan dan Kontribusi Sektor
Pertumbuhan tersebar merata meski ada fluktuasi triwulan:
Q1 2025: 5,11% (yoy), didukung konsumsi domestik dan investasi awal tahun.
Q2 2025: 5,12% (yoy), tertinggi sementara dengan lima sektor penopang utama – industri pengolahan (andil 1,13%), pertanian (13,82% pertumbuhan), perdagangan, konstruksi, dan informasi-komunikasi.
Q3 2025: Melambat ke 5,04% (yoy), tapi tetap di atas rata-rata ASEAN.
Q4 2025: Akselerasi ke 5,39% (yoy), tercepat sejak Q3 2022 berkat ekspor nonmigas dan PMTB (Peningkatan Modal Tetap Bruto) yang naik 6,99%.
Secara kumulatif, konsumsi rumah tangga berkontribusi 54,66% dari total pertumbuhan, investasi 26,21%, sementara ekspor bersih positif meski impor bahan baku meningkat.
Faktor Kunci Pendukung
Beberapa pendorong utama membuat capaian ini impresif:
Investasi swasta dan PMA: Realisasi Rp477,7 triliun di semester I, naik 15,1% yoy, terutama di nikel, baterai, dan infrastruktur.
Konsumsi domestik: Inflasi rendah ~2%, bantuan sosial tepat sasaran, dan libur panjang panas mendorong ritel.
Hilirisasi sumber daya alam: Ekspor nikel dan bauksit melonjak, kontribusi 20,5% ke PDB manufaktur.
Kebijakan pemerintah: Stimulus fiskal Rp56,6 triliun, pemangkasan birokrasi, dan sinergi dengan BI menjaga stabilitas rupiah di Rp15.400-16.000/USD.
Tantangan dan Risiko
Meski positif, ada catatan:
Di bawah target RKU 5,2%, akibat deflasi global dan penurunan harga komoditas.
Ketergantungan ekspor primer masih tinggi (35% PDB), rentan fluktuasi harga.
Fiskal defisit 2,78% PDB, tapi terkendali berkat penerimaan pajak naik 12%.
Dampak ke Investor dan Masyarakat
Buat saham IDX: IHSG berpotensi rebound 8-10% di 2026, fokus bank (BBRI, BMRI), konsumer (ICBP), dan komoditas (ANTM). Rupiah stabil dorong capital inflow.
Buat UMKM: Pertumbuhan ritel 4,6% buka peluang ekspansi, tapi butuh kredit murah (suku bunga BI 5,75%).
Proyeksi 2026: BPS dan BI ramal 5,1-5,5%, didukung Pemilu AS stabil dan hilirisasi fase II.

