Mengapa Saham BUMI Dibanjiri Net Sell Rp1,58 Triliun? Ungkap Alasan Investor Asing
Saham BUMI (PT Bumi Resources Tbk) dibanjiri net sell Rp1,58 triliun oleh investor asing pada awal Januari 2026, terutama karena aksi lindung nilai derivatif dan profit taking di tengah sentimen pasar lemah.
Latar Belakang Net Sell
Investor asing, khususnya UBS AG London, melakukan divestasi besar-besaran dengan melepas 289,6 juta lembar saham pada 6 Januari 2026, rata-rata harga Rp462 per saham, meraup Rp133,8 miliar.
Akumulasi net sell mingguan mencapai Rp1,58 triliun di pasar reguler BEI, melampaui saham blue chip lain seperti BMRI (Rp1,15 triliun), menjadikan BUMI target utama rotasi portofolio asing.
Pada akhir Januari, net sell harian menyentuh Rp497,9 miliar dengan volume 993 juta saham, total mingguan Rp1,3 triliun, volume harian Rp2,9 triliun dari 8,31 miliar saham.
Alasan Investor Asing
| (Foto Saham BUMI dari Google Finansial) |
Profit Taking: Harga saham naik tajam sepanjang 2025 dari lonjakan ekspor batubara, asing ambil untung saat valuasi tinggi meski target harga analis tetap bullish.
Sentimen Global: Fluktuasi harga komoditas batubara akibat oversupply China, ketidakpastian kebijakan Trump pasca-inaugurasi, dan IHSG gagal tembus 9.000 poin picu distribusi aset berisiko.
Rotasi Sektor: Asing alihkan dana ke saham bank seperti BBRI (net buy Rp640 miliar) dan ARA, sementara komoditas seperti BUMI ditekan.
Dampak pada Harga dan Volume
Harga saham BUMI anjlok hingga 5-7% per sesi, dari level Rp500-an ke bawah Rp450, dengan foreign flow negatif dominan 70-80% transaksi.
Volume turnover ekstrem, 8,31 miliar lembar/hari (naik 10x rata-rata), tunjukkan likuiditas tinggi tapi volatilitas ekstrem akibat dominasi institusi.
Respons Pasar dan Prospek
Manajemen BUMI belum beri statement resmi, tapi analis pertahankan target harga tinggi (Rp600+) karena fundamental ekspor batubara kuat dan utang terkendali.
Net sell ini mirip pola 2025 (Desember lepas 3,7 miliar saham), tapi rebound cepat pasca-koreksi; investor ritel justru borong saat panic sell asing.
Secara keseluruhan, aksi ini tak ubah prospek jangka panjang BUMI sebagai saham komoditas utama BEI, meski short-term tekanan berlanjut hingga stabilisasi IHSG.

