Toyota Bocorkan Tahapan Pengembangan Baterai di Indonesia
Toyota terus mempercepat elektrifikasi kendaraan di Indonesia melalui strategi lokalisasi produksi baterai secara bertahap. Strategi ini mendukung target pemerintah soal Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) hingga 2027.
Tahapan Pengembangan Bertahap
Toyota memulai dari impor Completely Built Up (CBU), beralih ke Completely Knock Down (CKD), dan kini fokus perakitan lokal baterai. Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julianto, mengungkapkan bahwa lini produksi baterai hybrid sudah disiapkan melalui kerja sama dengan pabrikan baterai.
Saat ini, semua model elektrifikasi Toyota seperti HEV dan BEV menggunakan baterai berbasis nikel dengan kapasitas 70-71 kWh, disesuaikan jumlah sel baterai per model. Langkah selanjutnya adalah produksi komponen baterai secara lokal untuk kurangi ketergantungan impor dan tekan harga.
Dukungan Ekosistem Lokal
Toyota juga lokalasi komponen pendukung seperti transaxle dan motor listrik demi kompetitif di pasar. Ini sejalan dengan hilirisasi nikel Indonesia, di mana baterai Toyota sudah berbasis mineral lokal.
Pabrik Karawang II TMMIN telah merakit baterai untuk Yaris Cross Hybrid dan Innova Zenix Hybrid, siap ekspansi regional Asia. Kerja sama dengan CATL sebelumnya menargetkan produksi massal baterai untuk HEV, PHEV, dan BEV.
Tantangan dan Prospek
Kendala utama adalah volume produksi yang harus meningkat untuk tarik investasi supplier. Toyota optimis dengan pasar hybrid yang tumbuh, targetkan kesiapan penuh sebelum 2027 agar hindari pajak impor tinggi.
Inisiatif ini perkuat posisi Indonesia sebagai hub baterai Asia Tenggara, ciptakan lapangan kerja dan tingkatkan SDM di sektor xEV.

