ByteDance Akses Chip AI Nvidia Teratas di Luar China
ByteDance, perusahaan induk TikTok asal China, berhasil mendapatkan akses ke chip AI Nvidia paling canggih melalui penempatan di luar negeri, menurut laporan Wall Street Journal. Strategi ini memungkinkan mereka mengatasi pembatasan ekspor AS terhadap teknologi canggih ke China.
Latar Belakang Kesepakatan
ByteDance bekerja sama dengan Aolani Cloud, perusahaan Asia Tenggara, untuk menyebarkan sekitar 500 sistem komputasi Nvidia Blackwell di Malaysia. Penempatan ini melibatkan sekitar 36.000 chip B200, dengan nilai hardware melebihi US$2,5 miliar jika rencana terealisasi. Aolani memperoleh server dari Aivres, yang merakitnya menggunakan chip Nvidia.
Perusahaan ini berencana menggunakan daya komputasi tersebut untuk penelitian dan pengembangan AI di luar China, serta memenuhi permintaan global dari pelanggannya. Langkah ini datang setelah ByteDance menjadi pembeli chip Nvidia terbesar di China pada 2025, dengan pengeluaran mencapai sekitar 85 miliar yuan.
Konflik Regulasi AS-China
AS telah melarang penjualan chip Nvidia paling mutakhir ke China, hanya mengizinkan versi yang dikurangi seperti H20. Pada November 2025, regulator China justru melarang ByteDance menggunakan chip Nvidia di pusat data baru, mendorong ketergantungan pada prosesor lokal. Meski begitu, ByteDance berencana menggelontorkan 100 miliar yuan (US$14 miliar) untuk chip Nvidia pada 2026, tergantung persetujuan penjualan H200.
Reuters melaporkan bahwa AS bersedia mengizinkan pembelian H200 oleh ByteDance, tapi Nvidia belum setuju dengan syarat penggunaannya. Upaya Beijing untuk membangun ekosistem AI mandiri terus berlanjut di tengah ketegangan perdagangan dengan Washington.
Implikasi untuk Industri AI
Akses ini menjadikan ByteDance salah satu pelanggan terbesar Nvidia secara global, mirip dengan rencana pengeluaran US$7 miliar pada 2025 untuk chip di luar China. Sementara itu, ByteDance juga mengembangkan GPU AI sendiri dengan TSMC untuk produksi massal pada 2026, mengurangi ketergantungan pada Nvidia. Perkembangan ini menyoroti persaingan sengit di sektor AI, di mana perusahaan China mencari celah regulasi untuk tetap kompetitif.

