Harga Plastik Melonjak Hingga 70 Persen, Pedagang Dan UMKM Mengeluh
Harga kantong dan gelas plastik di sejumlah daerah dilaporkan melonjak tajam hingga 60–70 persen, membuat pedagang dan pelaku UMKM kewalahan. Kenaikan ini ikut menekan omzet karena konsumen menjadi lebih ragu membeli, sementara para pelaku usaha harus menanggung biaya bahan kemasan yang lebih tinggi.
Di Pasar Tradisional Curug, Kabupaten Tangerang, Banten, lonjakan harga itu terasa langsung di lapangan. Salah satu pedagang plastik, Arwanto, mengatakan hampir semua jenis plastik mengalami kenaikan, termasuk kantong plastik yang naik dari Rp10.000 menjadi Rp16.000, kantong plastik merah dari Rp19.000 menjadi Rp26.000, serta plastik kiloan yang sebelumnya Rp7.000 kini menjadi Rp12.000.
Dampaknya tidak berhenti pada pedagang plastik saja. Pedagang kopi keliling dan usaha kecil lain yang bergantung pada gelas serta kantong plastik juga ikut terbebani karena modal usaha harus disesuaikan dengan harga bahan baku yang sudah naik.
Kondisi ini membuat banyak pelaku usaha harus lebih berhati-hati dalam membeli stok. Sebagian bahkan memilih mengurangi pembelian agar tetap bisa bertahan di tengah tekanan biaya produksi yang meningkat dan daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Tekanan ke UMKM
Bagi UMKM, kenaikan harga plastik berarti biaya operasional ikut naik. Saat bahan kemasan menjadi lebih mahal, pelaku usaha terpaksa menyesuaikan harga jual, mengurangi margin keuntungan, atau menahan pembelian stok.
Situasi ini menunjukkan betapa sensitifnya usaha kecil terhadap perubahan harga bahan baku. Dalam praktiknya, lonjakan pada satu komponen saja bisa berdampak berantai pada penjual, konsumen, dan keberlangsungan usaha harian.
Kesimpulan
Kenaikan harga plastik yang mencapai 60–70 persen menjadi tantangan baru bagi pedagang dan UMKM. Jika kondisi ini berlanjut, tekanan pada biaya usaha dan omzet diperkirakan akan semakin berat.

