Beban Bunga Bank Digital Melonjak Akibat Persaingan Deposito Ketat
Tekanan terhadap biaya dana atau cost of fund (CoF) perbankan digital diproyeksikan masih berlanjut hingga akhir 2026. Persaingan menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) yang semakin ketat membuat sejumlah bank digital harus menawarkan bunga deposito tinggi untuk menarik nasabah.
Kondisi tersebut tercermin dari kenaikan beban bunga sejumlah bank digital berdasarkan laporan keuangan bulanan hingga Juli 2026. Kenaikan ini menunjukkan bahwa biaya yang harus ditanggung bank untuk memperoleh dana masyarakat terus meningkat.
Beban bunga meningkat
Bank Jago mencatat kenaikan beban bunga sebesar 25,85 persen secara tahunan menjadi Rp642,52 miliar. Kenaikan lebih besar terjadi pada Krom Bank, yang beban bunganya melonjak 113,76 persen menjadi Rp448,21 miliar.
Sementara itu, beban bunga Amar Bank meningkat 97,19 persen menjadi Rp95,33 miliar. Allo Bank juga mencatat kenaikan sebesar 10,86 persen menjadi Rp238,85 miliar.
|
Bank |
Kenaikan beban bunga |
Beban bunga hingga Juli
2026 |
|
Bank Jago |
25,85% |
Rp642,52 miliar |
|
Krom Bank |
113,76% |
Rp448,21 miliar |
|
Amar Bank |
97,19% |
Rp95,33 miliar |
|
Allo Bank |
10,86% |
Rp238,85 miliar |
Kenaikan beban bunga tersebut terutama berkaitan dengan strategi bank dalam menawarkan imbal hasil simpanan yang kompetitif. Semakin tinggi bunga yang dibayarkan kepada deposan, semakin besar pula beban yang harus ditanggung bank.
Bunga deposito masih tinggi
Hingga pertengahan September 2026, sejumlah bank digital masih menawarkan suku bunga deposito yang relatif tinggi. Krom Bank dan Allo Bank menawarkan bunga hingga 8 persen per tahun. Amar Bank menawarkan bunga hingga 7 persen, sedangkan Bank Jago mematok bunga maksimal 6,25 persen per tahun.
Persaingan ini menjadi tantangan bagi bank digital karena dana deposito umumnya memiliki biaya yang lebih mahal dibandingkan dana murah atau Current Account Savings Account (CASA), yang berasal dari giro dan tabungan.
Bank yang memiliki basis CASA kuat cenderung lebih mampu menjaga margin bunga bersih. Sebaliknya, bank yang sangat bergantung pada deposito harus membayar biaya lebih besar agar dana nasabah tetap bertahan.
Tekanan diperkirakan berlanjut
Senior Vice President LPPI Trioksa Siahaan menilai biaya dana bank digital masih berpotensi mengalami tekanan hingga akhir tahun.
“Menurut saya, biaya dana bank digital masih cenderung tertekan naik karena persaingan DPK tetap ketat dan ketergantungan pada deposito berbunga tinggi relatif besar,” kata Trioksa.
Meski demikian, kenaikan biaya dana diperkirakan berlangsung secara bertahap, dengan peningkatan dalam kisaran puluhan basis poin. Besarnya tekanan akan bergantung pada kemampuan masing-masing bank dalam memperluas sumber dana murah dan mengurangi ketergantungan terhadap deposito berbunga tinggi.
Dampak terhadap kinerja bank
Kenaikan beban bunga dapat menekan pendapatan bunga bersih apabila tidak diimbangi dengan pertumbuhan kredit dan pendapatan lainnya. Bank harus menjaga agar kenaikan suku bunga simpanan tetap sejalan dengan kemampuan menghasilkan pendapatan dari penyaluran kredit.
Di sisi lain, ekspansi kredit yang terlalu agresif juga membawa risiko tersendiri. Jika pertumbuhan kredit tidak diikuti kualitas aset yang baik, bank dapat menghadapi peningkatan biaya pencadangan yang semakin menekan profitabilitas.
Karena itu, strategi bank digital tidak hanya ditentukan oleh besarnya bunga deposito, tetapi juga oleh kemampuan membangun ekosistem transaksi. Semakin banyak nasabah menggunakan rekening untuk menerima gaji, bertransaksi, membayar tagihan, atau menyimpan dana operasional, semakin besar peluang bank memperoleh dana murah.
Persaingan tidak hanya soal bunga
Penawaran bunga deposito tinggi memang efektif untuk menarik dana dalam jangka pendek. Namun, strategi tersebut dapat meningkatkan biaya dana dan berpotensi mengurangi margin keuntungan apabila berlangsung terlalu lama.
Bank digital yang memiliki ekosistem kuat, basis nasabah aktif, serta proporsi CASA yang besar dinilai lebih tangguh menghadapi persaingan. Sementara itu, bank yang mengandalkan promosi bunga deposito perlu memastikan bahwa biaya akuisisi dana tersebut sebanding dengan pendapatan dari kredit dan layanan digital.
Dengan persaingan DPK yang masih ketat, tekanan terhadap biaya dana kemungkinan belum akan mereda dalam waktu dekat. Kinerja bank digital hingga akhir 2026 akan sangat dipengaruhi oleh kemampuan menyeimbangkan pertumbuhan dana, tingkat bunga simpanan, ekspansi kredit, dan kualitas aset.

