Kurs Dolar-Rupiah, Kamis 24 September 2026, Dolar pada Rupiah Senilai Rp 17.905

Kurs Dolar-Rupiah, Kamis 24 September 2026, Dolar pada Rupiah Senilai Rp 17.905
(Foto Kurs Dolar-Rupiah dari Bank BCA)
Nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah (IDR) pada perdagangan Kamis, 24 September 2026, tercatat di kisaran Rp 17.905. Posisi ini menunjukkan rupiah masih berada di bawah tekanan moderat di tengah dinamika pasar global dan domestik.

Berdasarkan data dari sejumlah sumber, kurs USD/IDR pagi ini bergerak dalam rentang yang relatif sempit. Platform konversi dan agregator pasar mencatat kurs mid-market di kisaran Rp 17.798–17.803, dengan perubahan harian negatif tipis sekitar −0,14% hingga −0,45%. Sementara itu, bank komersial seperti BCA mencatat kurs e-Rate pada pukul 05.47 WIB di level beli Rp 17.765 dan jual Rp 17.855.

Adapun kurs tengah Bank Indonesia (JISDOR) terakhir yang dirilis untuk Rabu, 23 September 2026, berada di Rp 17.883, dengan kurs jual Rp 17.972,42 dan kurs beli Rp 17.793,58. Angka Rp 17.905 yang menjadi acuan hari ini berada sedikit di atas kurs tengah BI hari sebelumnya, namun masih dalam rentang wajar untuk kurs jual bank atau level intraday tertentu.

Pergerakan Sehari Sebelumnya

Sehari sebelumnya, rupiah justru ditutup menguat terhadap dolar AS. Pada penutupan Rabu (23/9), rupiah berada di level Rp 17.818 per USD, naik 0,37% dari posisi sebelumnya di Rp 17.884. Penguatan itu didorong oleh sentimen positif dari pasar global serta aliran modal yang relatif stabil ke aset emerging markets, termasuk Indonesia.

Meski sempat menguat, analis memperkirakan rupiah pada Kamis masih bergerak dalam koridor Rp 17.700–17.900 per USD. Rentang ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal, seperti ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed, serta faktor domestik berupa data neraca perdagangan dan arus portofolio.

Faktor yang Mempengaruhi Kurs Hari Ini

Beberapa faktor yang turut membentuk pergerakan kurs dolar–rupiah pada 24 September 2026 antara lain:

Ekspektasi kebijakan The Fed: Data ekonomi AS dan sinyal suku bunga bank sentral AS masih menjadi penggerak utama arus modal global.

Kondisi pasar emerging markets: Sentimen risiko global memengaruhi keputusan investor untuk menempatkan dana di aset negara berkembang, termasuk rupiah.

Dinamika domestik: Perkembangan neraca perdagangan, posisi cadangan devisa, serta kebijakan moneter Bank Indonesia juga turut menentukan arah nilai tukar.

Dampak bagi Pelaku Usaha dan Masyarakat

Bagi pelaku usaha, terutama importir dan perusahaan yang memiliki kewajiban dalam dolar, level Rp 17.905 per USD berarti biaya perolehan valuta asing sedikit lebih tinggi dibandingkan saat rupiah menguat ke area Rp 17.700–17.800. Setiap kenaikan Rp 100 dari level Rp 17.805 ke Rp 17.905 setara dengan tambahan biaya sekitar 0,56% per dolar.

Di sisi lain, eksportir yang menerima pembayaran dalam dolar berpotensi mendapat keuntungan lebih besar saat mengonversi pendapatan mereka ke rupiah. Namun, volatilitas kurs tetap menjadi tantangan dalam perencanaan arus kas dan penetapan harga jual.

Bagi masyarakat umum, pergerakan kurs ini berpengaruh tidak langsung melalui harga barang impor, biaya perjalanan ke luar negeri, serta nilai investasi yang terkait dengan mata uang asing.

Proyeksi ke Depan

Ke depan, arah pergerakan rupiah sangat bergantung pada:

Data inflasi dan ketenagakerjaan AS yang akan memengaruhi sikap The Fed.

Kebijakan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi.

Arus modal portofolio asing di pasar obligasi dan saham Indonesia.

Analis memperkirakan rupiah akan tetap bergerak dalam koridor yang relatif ketat dalam jangka pendek, dengan potensi penguatan terbatas jika sentimen risiko global membaik. Namun, tekanan pelemahan tetap ada apabila ketidakpastian kebijakan moneter global meningkat.

Next Post Previous Post